Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

MENELUSURI JEJAK TEKNIK SIPIL UMI

Menyewa laboratorium di Universitas Hasanuddin hingga main enggo-enggo dengan dosen.

Teknik merupakan fakultas ketiga yang lahir di Universitas Muslim Indonesia setelah Fakultas Agama dan Fakultas Ekonomi, 51 tahun lalu, tepatnya 3 April 1965. Teknik sipil menjadi satu-satunya program studi berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi nomor 92/Kep/Dikti/1965.

Di Kakatua, pembelajaran Teknik Sipil dimulai, kampus satu Universitas Muslim Indonesia bertempat, tepatnya di Jalan Kakatua no 27 Makassar. Mahasiswa teknik kala itu memulai jam kuliah agak siang, mereka harus menunggu anak sekolah pulang sekolah terlebih da
hulu, sebab mereka menumpang di gedung sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) yang berada di Jalan Kakatua. Ruang kuliah di kampus 1 saat itu hanya ada dua kelas, masing-masing berkapasitas 40 orang dan 60 orang. Keterbatasan ruangan ini membuat kelas dibagi pagi dan sore.

Tak hanya ruang kuliahnya yang menumpang, tenaga pengajarnya pun masih mengandalkan dosen-dosen dari Universitas Hasanuddin. Saking minimnya tenaga pengajar, beberapa mata kuliah umum seperti bahasa Inggris dan Pancasila terpaksa digabung dengan mahasiswa fakultas lain yang menempati Aula Hijas di Kampus UMI Kakatua. “Saat itu, dosen sedikit dan susah ditemui, kami punya istilah main enggo-enggo dengan dosen-dosen yang kebanyakan dari Unhas,” kata Ir Alimin Gecong, MT, Ketua Jurusan Teknik Sipil yang juga alumni Sipil dari angkatan 1979.

Dosen-dosen yang mengajar dibeberapa perguruan tinggi, saat itu, kata Alimin juga disibukkan oleh kerja-kerja proyek yang sedang banyak di Makassar. Minimnya tenaga pengajar juga berimbas pada mahasiswa yang terus berkurang, dalam artian mereka meninggalkan bangku kuliah tanpa menyelesaikan studinya. Barulah pada 1978-1981 jumlah mahasiswa mengalami peningkatan baik yang mendaftar maupun yang bertahan dan menyelesaikan studinya.

Kala itu, kata Ir. Arifuddin Karim, MT, alumni Teknik Sipil angkatan 1978, semua dosen berasal dari Unhas di antaranya Ir. Muhammad Arief, MT, Ir. H. sofyan Bachmid, M.Sc , Dr. Ir.Ratna Musa,M.Sc dan Ir. Yasnawi Idrus, MT, mereka inilah yang membantu dosen utama.

Pernah terjadi sebuah peristiwa dimana para dosen mengundurkan diri, sehingga Teknik Sipil UMI saat itu terancam bubar. Melihat situasi itu, para mahasiswa mendatangi rector Prof. Dr. H. Abdurahman A. Basalamah. Se, Msi, yang menjabat periode1984-1994. “Kami siap mengabdi untuk meneruskan, kami sudah sarjana muda,” ungkap salah satu mahasiswa angkatan 1979 kepada Rektor UMI saat itu.

Ketika para mahasiswa ini sudah menyelesaikan program sarjana, saat itu tahun 1986. Banyak perusahaan BUMN yang membutuhkan tenaga kerja, alumni teknik sipil. Mereka menawarkan gaji yang sangat tinggi, lima kali lipat dari gaji seorang dosen yang ada di fakultas teknik. Meski tawarannya menggiurkan, kata Arifuddin, beberapa mahasiswa yang lulus tetap bertahan dan mengabdi di kampus. Salah satu yang membuat mereka bertahan karena teringat pesan Prof Basalamah yang bilang “Kalau kau memburu dunia, mungkin kalian tinggalkan dan teknik tidak ada lagi. Di tahun itu pula, menjadi awal mula alumni Teknik Sipil UMI menjadi dosen di kampusnya.

***

Dalam menyelesaikan studi, mahasiswa cukup longgar karena kurikulum yang diterapkan tidak memberi membatasi masa studi hingga berapa tahun. Tanpa pembatasan ini, mengakibatkan banyaknya mahasiswa yang tidak tepat waktu dalam menyelesaikan studinya. “Mau-maunya mahasiswa, mau-maunya juga dosen. Dalam setahun bisa tak ada satupun pengumuman lulus,” ungkap Alimin.

Hal senada diungkapkan Arifuddin bahwa situasi belajar sekarang jauh berbeda dengan dahulu.  Dosen kala itu sangat jarang bertemu dengan mahasiswanya bahkan beberapa dosen muncul hanya pada saat ujian. Tapi masa itu semangat belajar sangat luar biasa, mahasiswa agresif dalam mencari bahan pegangan mata kuliah hingga ke Unhas, menanyakan buku pegangan dari dosen yang bersangkutan. Setelah mendapatkan judul dan pengarangnya, lalu bukunya akan dicari. Jika dosen tak masuk mengajar, mahasiswa akan datang ke kantor atau tempat proyek sang dosen. “Kami naik bendi—angkutan umum yang menggunakan tenaga kuda,” kenang Arifuddin.

Tak ada penasehat akademik, tak ada kartu rencana studi (KRS) untuk mahasiswa. Tak adanya daftar mata kuliah yang harus diselesaikan cukup menyulitkan mahasiswa. Mahasiswa seperti berada di hutan belantara, mereka tak tahu apa yang akan mereka dapatkan semester selanjutnya. Situasi perkuliahan dahulu dengan sekarang jauh berbeda. “Mahasiswa begitu masuk diperkenalkan semua fasilitas yang akan dilalui, semua daftar mata kuliah dari semester satu hingga akhir yang akan dipelajari. Kalau kami dulu tidak ada,” ungkao Ir. Arifuddin Karim, MT, alumni Teknik Sipil angkatan 1978.

Menurut Arifuddin, kurikulum yang dahulu dilaluinya, masih menganut sistem ujian Negara. Kemudian berubah perlahan-lahan hingga bisa menjadi ujian mandiri atau disamakan, lalu meningkat setelah mendapat akreditasi. “Jenjang pendidikan saat itu masih berupa program sarjana muda, jadi kami harus melanjutkan studi program S1 di Unhas. Barulah pada 1984, program S1 diterapkan di Jurusan Sipil, Fakultas Teknik UMI.

Pada era 80-an itu, sudah mulai memiliki ketua jurusan, Ketua Jurusan Teknik Sipil kala itu Ir Muh. Husni M Yatim. Meski sudah memiliki nahkoda sendiri, tapi tidak banyak yang berubah karena masih menggunakan kurikulum lama. Dari Ir Muh. Husni M Yatim, ketua jurusan digantikan oleh Ir. H. M. Ridwan Abdullah, lalu Ir. Muhammad Garu, Ir. Muhammad Arief,MT, berpindah Ir. Mas’ud SAR, M.Sc.

Mas’ud kemudian mengubah kurikulum dengan membagi empat pembidangan yakni keairan, struktur, manajemen, dan transport. Lalu Ketua Jurusan Ir. Toni Utina, M.Sc dikenal sebagai sosok pekerja keras kemudian membawa Teknik Sipil mendapat akreditasi C.  Karena Toni terangkat menjadi wakil dekan 1, posisinya sebagai ketua jurusan digantikn oleh oleh  Ir. Muh. Haris Umar, M.Sc. Di tangan Haris Umar, Teknik Sipil naik peringkat berdasarkan Surat Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi No. 10/BAN-PT/AK-X/S1/VIII/2006 menjadi akreditasi B.

Selanjutnya, ketua jurusan tak ditunjuk lagi oleh dekan, Ir. H. Arsyad Fadhil, MT terpilih melalui pemilihan, dan nahkoda Teknik Sipil kini dipegang oleh Alimin sebagai ketua jurusan.

Sewa Laboratorium di Unhas

Selama 20 tahun, sejak berdirinya, Teknik Sipil UMI menyewa laboratorium di Unhas. Tahun 1985 barulah ada laboratorium, yang mana angkatan 1978-1979 yang dipercayakan untuk pengoperasian dan bertanggung jawab. Ditahun yang sama, beberapa orang dikirim ke Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk kursus, mereka yang dikirim inilah yang dipersiapkan sebagai asisten laboratorium.

“Kami kuliah sedih sekali, tidak ada laboratorium, tak ada mesin fotocopy. Jadi kalau ada tugas yang harus dirangkap, kami menggunakan karbon,” ungkap Arifuddin. Generasi kami, adalah mahasiswa yang sangat ahli memakai kalkulator karena belum ada program untuk menghitung konstruksi seperti SAP dan ETABS. Menggambarnya pun masih manual, menggunakan pensil dan kertas gambar, belum ada yang namanya Autocad.

 Study Club Belajar Malam

Era 70-an adalah masanya study club alias belajar tengah malam.  Dimana setiap angkatan punya study club lengkap dengan jadwalnya, pertemunya serupa kuliah. Tapi, kata Alimin, hanya beberapa mata kuliah yang dipelajari dalam study club. Sistem pembelajaran yang diterapkan dalam  kelompok study club sangat disiplin, dimana pembelajaran biasanya dimulai jam 10 malam.

Meski tidak ada tenaga pengajar dalam sebuah kelompok study club, tidak menyurutkan semangat belajar para mahasiswa kala itu. Mereka saling mengajari untuk membantu satu sama lain. Tidak hanya di kelompok study club-nya, beberapa mahasiswa yang sudah mahir mata kuliah tertentu siap berbagi dan mengajari di kelompok study club lainnya.

Saking semangatnya belajar, seorang mahasiswa, Ilham Safei, yang saat itu sudah bekerja sebagai pegawai Samsat, juga tak mau ketinggalan dan tetap ikut kelompok belajar malam dengan sudah membawa baju kantor yang akan dipakainya untuk keesokan paginya.

Sebuah kelompok study club, anggotanya bisa berasal dari beberapa kelas. Dengan kegiatan kelompok belajar mala mini, cukup efektif membangun keakraban antar mahasiswa. “Ada kebersamaan, saling melengkapi,” ungkap Alimin.

Saat jumlah mahasiswa semakin banyak, dibentuklah Himpunan Mahasiswa Sipil. Lembaga HMS UMI ini berdiri 26 Juni 1980, yang diprakarsai oleh yaitu Musafir Turu, Lambang Basri, Iskandar BP, Alimin Gecong, dan A. Hatta Sinrang. Himpunan ini dimaksudkan untuk menyatukan semua mahasiswa teknik, agar tidak tercerai-berai, himpunan kemudian menjembatani kelompok-kelompok setiap angkatan yang selama ini dikenal sebagai kelompok study club.

“Saya dipercaya menjadi ketua HMS pertama,” ungkap Ir. H.Lambang Basri Said, MT, PhD alumni Teknik Sipil UMI 1979. Saat itu ada banyak kelompok belajar, dia dan kawan-kawannya membentuk kelompok Muslim Study Club (MSC), ada juga kelompok PENDEL, Civil Enginerin Study Club (CES)  dan lainnya. “Banyaknya study club, maka muncul gagasan dibentuk himpunan untuk mewadahi,” tambahnya. Hal senada diungkapkan Haris Umar, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 1979 yang sekarang dosen Sipil UMI.

Awal berdirinya HMS, sudah menjalankan program-program yang tujuannya untuk meningkatkan kualitas mahasiswa selain kelompok. HMS saat itu juga menjalankan kegiatan studi banding. Studi banding alias studi lapangan dilakukan di Palopo hingga Mangkutana, selama tiga hari perjalanan.

Keberadaan HMS, berperan besar bagi mahasiswa dan jurusan dalam bidang akademik, semacam sparring partner selama 36 tahun usia HMS.

***

Pendirian Universitas Muslim Indonesia pada 23 Juni 1954 lalu, dimana piagam pendirianya ditandatangani oleh K.H. Muhammad Ramly, La Ode Munarta, Andi Maddaremmeng dan Chalid Husain. Pendirian perguruan tinggi ini, tujuannya untuk membentuk tenaga ahli, terampil, berbudi luhur,  serta peran UMI sebagai penegak cita-cita luhur syiar Islam. Presidium Prof. Mukhtar Lintang menjadi rektor pertama (1954-1958).

Tahun 1961, fakultas-fakultas di UMI mengadakan penyesuaian dengan fakultas di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), sebagai cikap bakal kelahiran IAIN Alauddin Makassar pada 11 November 1962. Fakultas Ekonomi dibuka untuk mengantisipasi pengintegrasian fakultas yang ada di UMI ke IAIN. UMI sempat mengalami kesulitan keuangan karena berjalan tanpa bantuan Badan Wakaf  yang juga menangani IAIN. Kondisi itu, membuat UMI mendirikan Badan Wakaf sendiri, setelah melewati krisis, reorganisasi ditingkat yayasan dan universitas kembali dilakukan.

UMI mencoba menghadirkan nuansa kampus yang lebih dinamis dengan membina beberapa fakultas yakni ekonomi, teknik, hukum dan ushuluddin, serta akademi bahasa asing. Dan saat ini UMI mengelola 12 fakultas dengan 40 program studi baik itu S1 dan pascasarjana S2 dan S3. (***)

Andi Nabilah Aizhi Anri |Ahmar Kasim

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn